Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia
Berita Politik Indonesia

 Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia

Umat Islam Indonesia di Jakarta berkumpul di Monas untuk berdoa bersama. (Foto: Sekretariat Pers Istana Kepresidenan RI)
Berita Internasional >>  Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia

Kelompok-kelompok Islam garis keras telah mendapatkan kekuatan, dan semuanya berkat dukungan politik dari para sekutu Prabowo Subianto, dua yang terkuat di antaranya adalah Fadli Zon dan Kivlan Zen. Opini oleh Terry Russell.

Oleh: Terry Russell (The Diplomat)

Umat Islam Indonesia di Jakarta berkumpul di Monas untuk berdoa bersama

Umat Islam Indonesia di Jakarta berkumpul di Monas untuk berdoa bersama. (Foto: Kantor Sekretariat Pers Presiden RI)

Dalam persaingan antara Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo dan lawan utamanya, mantan pejabat militer Prabowo Subianto, dua tokoh lainnya hampir tidak diketahui di luar Indonesia. Mereka adalah dua pengikut Prabowo, Fadli Zon dan Kivlan Zen. Sementara media internasional cenderung berfokus pada para pemimpin Islam saat demonstrasi massal belakangan ini, pelaku mobilisasi yang sebenarnya adalah Fadli Zon dan Kivlan Zen.

Fadli Zon adalah seorang akademisi yang membantu Prabowo mendirikan Partai Gerindra pada tahun 2007, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Partai. Pensiunan Jenderal Kivlan Zen telah menjadi sekutu Prabowo setidaknya sejak awal tahun 1980-an. Ia adalah salah satu pendiri—pada tahun 1998—kelompok milisi Islam Pamswakarsa yang kemudian berubah menjadi Front Pembela Islam (FPI).

Jika para pengamat politik berusaha mengetahui apakah Prabowo berada di balik sejumlah demonstrasi di Indonesia, mereka hanya perlu memeriksa apakah Zon atau Zen berhubungan dengan demonstrasi tersebut.

Kesempatan besar diberikan oleh Prabowo pada April 2016, ketika Jokowi dan sekutunya Luhut Panjaitan mendukung sebuah simposium untuk mendengar keluhan korban selamat pembantaian tahun 1965, dan selanjutnya mengumumkan bahwa pemerintah akan membentuk sebuah tim untuk menggali kuburan massal. Bagi beberapa pengamat, Jokowi dan Luhut menunjukkan kepemimpinan moral, membantu negara untuk mencari kebenaran tentang masa lalu, membangun rekonsiliasi, dan memastikan bahwa perbuatan keterlaluan di masa lalu tidak terulang. Dimana Prabowo, Jokowi, dan Luhut membuka diri mereka untuk diserang oleh kelompok-kelompok Islam garis keras dan para konservatif lainnya.

Jokowi segera terkalahkan ketika Kivlan Zen bergabung bersama kelompok-kelompok Islam garis keras untuk mengkritik “rekonsiliasi” tersebut. Mereka digabungkan oleh mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, yang secara tradisional tidak dekat dengan kelompok-kelompok Islam garis keras, dan beberapa tokoh pemimpin militer lainnya. Zen memenangkan pertempuran tersebut, dimana Jokowi memindahkan sekutu dekatnya Luhut ke kementerian lain, dan menunjuk seorang menteri koordinator bidang keamanan yang baru, pensiunan Jenderal Wiranto, yang segera menjatuhkan gagasan rekonsiliasi.

Mobilisasi kelompok Islam garis keras lainnya terjadi pada November 2016, yang dipicu oleh sekutu Jokowi lainnya: Gubernur Jakarta saat itu, Basuki Purnama (atau yang dikenal Ahok). Demontrasi kelompok Islam garis keras pertama melawan Ahok menargetkannya karena ia adalah seorang umat Kristen beretnis China, dan karena telah melakukan penistaan terhadap agama Islam. Demonsrtasi ini dilakukan lebih dari lima hari setelah Ahok melakukan penistaan, dan hanya terjadi setelah Fadli Zon mengumumkan bahwa ia akan bergabung dengan demonstrasi tersebut.

Zen juga disebut-sebut menjadi salah satu tokoh yang mengatur demonstrasi tersebut. Hanya beberapa jam sebelum demonstrasi yang lebih besar pada tanggal 2 Desember 2016, Zen ditahan oleh polisi karena diduga berencana melakukan pengkhianatan terhadap Jokowi. Pada bulan April 2017, karena kerumunan massa yang dimobilisasi oleh Zon dan Zen, Ahok kalah dalam pemilu gubernur Jakarta, dari sekutu Prabowo lainnya, Anies Baswedan.

Kelompok-kelompok Islam garis keras berada di baris terdepan untuk menyingkirkan Ahok, namun mereka tidak dapat melakukannya tanpa dukungan politik dan dana dari Prabowo. Seorang sekutu utama Prabowo, pengusaha media Hary Tanoe, disebut-sebut menjadi pendukung utama FPI, melalui bantuan langsung dan publikasi positif yang disebarkan melalui saluran-saluran televisi. Para pemimpin FPI memuji Hary Tanoe, walaupun juga beretnis China dan beragama Kristen, dan menunjukkan mereka bergantung padanya.

Pada awal tahun 2017, ketika pemilu gubernur semakin dekat, Prabowo memberikan lebih banyak dukungan langsung kepada para kelompok Islam garis keras, dan mengkritik Ahok karena “memfitnah kelompok lain”. Dan ketika hasil pemilu sedang dihitung, Prabowo menyampaikan terima kasih kepada pemimpin FPI karena “menyelamatkan demokrasi Indonesia.” Sebelum November 2016, FPI memiliki sedikit dukungan publik. Banyak yang mengatakan, persekutuan dengan Prabowo-lah yang membuatnya dapat menggerakkan ratusan ribu orang.

Sejak September 2017, Fadli Zon dan Kivlan Zen telah tampil kembali di belakang layar sebagai tokoh Islam yang berusaha untuk menghidupkan kembali komunisme sebagai sebuah masalah politik. Kivlan Zen bergabung bersama kelompok-kelompok Islam garis keras ketika mereka menyerang Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta pada tanggal 18 September, ketika LBH melaksanakan acara diskusi dengan para korban selamat pembantaian tahun 1965. Dan ketika kelompok Islam garis keras melakukan demonstrasi di luar gedung DPR pada tanggal 29 September lalu, yang mengatakan bahwa Jokowi menekan para kelompok Islam garis keras dan membiarkan komunisme bangkit kembali, Fadli Zon berada di sana untuk bertemu dengan mereka dan bersimpati. Sebagai seorang anggota DPR, ia memberikan legitimasi terhadap klaim mereka mengenai kebangkitan komunisme.

Kritik yang dilontarkan pada September 2017 kepada Jokowi, sekali lagi dipimpin oleh para kelompok Islam garis keras. Prabowo menyangkal mendukung kelompok Islam garis keras; namun begitu, mereka membutuhkan dukungannya. Mereka membutuhkan kehadiran Zen ketika mereka menyerang kantor LBH pada tanggal 18 September. Kepala polisi menjelaskan bahwa polisi mengalami kesulitan ketika menangkap para penyerang tersebut, karena mereka memiliki dukungan dari para pensiunan pejabat militer seperti Kivlan Zen. Fadli Zon bukan hanya secara publik bersimpati dengan para demonstran Muslim radikal pada tanggal 29 September, namun juga beberapa hari sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap komunisme, dan menyuarakan dukungannya dalam menampilkan film propaganda anti-komunis Suharto tahun 1984. Serangan kelompok-kelompok Islam garis keras di kantor LBH dan kebangkitan ketakutan akan komunisme tidak akan seberhasil ini, tanpa dukungan dari Zen dan Zon.

Di saat para jurnalis dan aktivis mengkaji dokumen yang dirilis oleh pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini, yang memaparkan keterlibatan Amerika Serikat dalam pembantaian terduga komunis di Indonesia pada tahun 1965, terdapat tekanan terhadap Jokowi untuk melakukan rekonsiliasi dengan para korban selamat pembantaian tersebut. Dan jika ia melakukannya, Zon dan Zen akan menantinya, dan siap untuk sekali lagi memobilisasi para kelompok Islam garis keras dan  kelompok konservatif lainnya.

Dr. Terry Russell bekerja sebagai seorang pengajar dan praktisi di Indonesia selama 15 tahun. Ia saat ini berada di Australia, bekerja di sektor bantuan internasional (bersama dengan sebuah organisasi yang tidak memiliki keterlibatan dengan Indonesia). Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

 Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Indonesia, Malaysia dan Filipina Susun Rencana Perangi Ekstremisme - Mata Mata Politik

Beri Tanggapan!

To Top